1 Januari 2026, Global — Saat jam di seluruh dunia menunjukkan awal tahun 2026, berbagai negara merayakan Tahun Baru dengan beragam cara. Pada tahun 2025, ekonomi global menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang stabil meskipun masih ada tantangan. Dengan latar belakang ini, makanan kaleng, sebagai komponen penting perdagangan global, mengalami perkembangan dan perubahan baru. Saat kita menyambut Tahun Baru, kita tidak hanya merayakan awal yang baru tetapi juga merefleksikan kinerja perdagangan makanan kaleng pada tahun 2025 dan melihat ke depan pada trennya di tahun 2026.
Tinjauan Perdagangan Makanan Kalengan pada Tahun 2025
Pada tahun 2025, perdagangan makanan kaleng global menunjukkan pertumbuhan yang stabil. MenurutLaporan Perdagangan Pangan Global 2025Menurut data yang dirilis oleh Asosiasi Perdagangan Pangan Internasional (IFTA) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), total nilai perdagangan makanan kalengan mencapai sekitar $185 miliar, menandai peningkatan tahunan sebesar 4,5%. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh pemulihan bertahap rantai pasokan global, meningkatnya permintaan konsumen akan produk makanan praktis, dan keunggulan makanan kalengan dalam penyimpanan dan transportasi.
Negara-negara Pengekspor UtamaPada tahun 2025, eksportir makanan kaleng terkemuka meliputi Tiongkok, Amerika Serikat, Thailand, dan Italia. Tiongkok mempertahankan posisinya sebagai eksportir makanan kaleng terbesar di dunia, dengan nilai ekspor mencapai sekitar $42 miliar, meningkat 5,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Amerika Serikat berada di peringkat kedua, dengan nilai ekspor sekitar $38 miliar, naik 4,2% dari tahun sebelumnya. Thailand, didukung oleh kinerja ekspor yang kuat dalam makanan kaleng buah (terutama nanas dan mangga), mencapai nilai ekspor sekitar $15 miliar, meningkat 6,5%.
Pasar Impor UtamaPasar impor utama untuk makanan kaleng meliputi Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Inggris Raya. Sebagai importir makanan kaleng terbesar, Amerika Serikat mencatat nilai impor sekitar $32 miliar pada tahun 2025, meningkat 3,8% dari tahun sebelumnya. Permintaan Jepang untuk makanan laut kaleng (terutama tuna dan salmon) terus tumbuh, dengan nilai impor mencapai sekitar $12 miliar, naik 5,2%. Pasar Eropa juga tetap stabil, dengan Jerman dan Inggris Raya melaporkan nilai impor masing-masing sebesar $10 miliar dan $8 miliar.
Tren PerdaganganPada tahun 2025, perdagangan makanan kalengan menunjukkan tren sebagai berikut:
- Meningkatnya Kesadaran Kesehatan: Permintaan konsumen terhadap makanan kaleng rendah sodium, bebas aditif, dan organik meningkat secara signifikan, mendorong perdagangan produk-produk terkait.
- Fokus pada Kemasan Berkelanjutan: Kemasan ramah lingkungan (seperti kaleng logam yang dapat didaur ulang) menjadi poin penjualan utama, dengan banyak negara pengimpor memberlakukan standar lingkungan yang lebih ketat.
- Pertumbuhan Pasar Berkembang: Permintaan akan makanan kaleng di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika meningkat pesat, menjadi area pertumbuhan baru untuk perdagangan.
Prospek Perdagangan Makanan Kalengan pada Tahun 2026
Menjelang tahun 2026, perdagangan makanan kaleng diperkirakan akan mempertahankan momentum pertumbuhannya. Menurut prediksi IFTA, nilai perdagangan global makanan kaleng diproyeksikan akan melebihi $195 miliar pada tahun 2026, yang mewakili pertumbuhan tahunan sekitar 5%. Tren utama untuk tahun 2026 meliputi:
- Optimalisasi Rantai PasokanDengan semakin pulihnya sistem logistik global dan penerapan teknologi digital, rantai pasokan makanan kaleng akan menjadi lebih efisien dan transparan. Teknologi blockchain diharapkan memainkan peran yang lebih besar dalam ketertelusuran pangan dan pengendalian mutu.
- Pertumbuhan yang Didorong oleh InovasiPada tahun 2026, inovasi produk akan menjadi pendorong signifikan pertumbuhan perdagangan. Misalnya, makanan kalengan berbasis tumbuhan (seperti kacang-kacangan kalengan dan produk protein nabati) dan makanan kalengan fungsional (seperti produk yang diperkaya dengan probiotik atau vitamin) diperkirakan akan mendapatkan lebih banyak perhatian.
- Dampak Perjanjian Perdagangan RegionalPerjanjian perdagangan regional baru (seperti Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional, RCEP) akan semakin mendorong perdagangan makanan kaleng di kawasan Asia-Pasifik. Penurunan tarif dan berkurangnya hambatan non-tarif akan menciptakan lebih banyak peluang bagi negara-negara pengekspor.
- Pengembangan Perdagangan BerkelanjutanPerlindungan lingkungan dan keberlanjutan akan menjadi tema sentral pada tahun 2026. Bahan kemasan, emisi karbon transportasi, dan standar lingkungan dalam proses produksi makanan kaleng akan menghadapi regulasi yang lebih ketat. Sementara itu, permintaan konsumen akan produk "netral karbon" akan mendorong perusahaan untuk mengadopsi praktik yang lebih ramah lingkungan.
- Potensi Pasar BerkembangAsia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika akan terus menjadi mesin pertumbuhan perdagangan makanan kaleng. Seiring percepatan urbanisasi dan perluasan kelas menengah di wilayah-wilayah ini, permintaan akan produk makanan yang praktis dan tahan lama akan semakin meningkat.
Kesimpulan
Hari Tahun Baru 2026 bukan hanya waktu untuk merayakan, tetapi juga momen penting untuk melihat ke depan pada masa depan perdagangan pangan global. Sebagai komponen vital perdagangan global, makanan kaleng akan terus memanfaatkan keunggulannya untuk memenuhi kebutuhan konsumen di seluruh dunia pada tahun mendatang. Asosiasi Perdagangan Pangan Internasional menyerukan kepada pemerintah, bisnis, dan organisasi industri untuk memperkuat kerja sama dan bersama-sama mempromosikan pembangunan berkelanjutan perdagangan makanan kaleng, berkontribusi pada ketahanan pangan global dan kemakmuran ekonomi.
Waktu posting: 29 Desember 2025
